Log Operasi: Hosea, The Prophet.
Initiated: CLASSIFIED
Supreme Authority: YHWH.
Day 1 of Mission: Briefing Awal (Operation Directive)
Aku duduk di ruang gelap. Suatu cahaya menyorot dari atas menyilaukan mata, dan suara Supreme Authority menggema dalam kepalaku. “Hosea, pergilah dan ambillah seorang istri yang akan berkhianat kepadamu. Codename: Gomer. Ia adalah refleksi dari umat-Ku, setia di permukaan namun penuh pengkhianatan di balik layar.” Aku diam, menarik napas dalam, wajahku datar. Aku nabi, pembawa pesan Ilahi, bukan pelipur lara drama murahan. Namun perintah dari atas tak bisa ditolak. “Understood,” jawabku pelan sambil menghitung risiko: hati hancur, nama tercemar, istri hilang. Prosedur umum seorang nabi.
Gomer. Aku tahu siapa dia. Wanita lokal dengan wajah menawan, mata tajam yang bisa menembus jiwa, senyum manis penuh rahasia. Rambutnya tergerai bebas, langkahnya lembut namun terukur, seperti singa yang berjalan dalam senyap. Orang bilang dia memikat, tapi di balik pesonanya ada riwayat gelap: hubungan tak jelas, janji yang mudah patah. Dia seperti api, indah dilihat, berbahaya disentuh.
Operation 1: Covenant
Month 3 of Mission: Langkah Pertama
Aku dekati Gomer dengan hati terbuka. Ini perintah dari atas, dan aku jalankan dengan sepenuh jiwa. Aku ajak dia menikah, beri dia cinta tulus karena itulah tugasku, bukan sandiwara belaka. Rumahku jadi tempat kami berdua. Aku bisikkan kata-kata indah di malam gelap, tunjukkan perhatian, dan kami saling jatuh cinta, setidaknya begitu kurasa. Awalnya dia bersamaku sepenuh hati. Tawa kami mengisi dapur, tatapannya lembut seolah dunia cuma milik kami. Aku yakin ini nyata, meski sifat aslinya belum kulihat.
Year 1 of Mission: Anak Pertama
Anak pertama lahir. Hari itu hatiku penuh. Aku gendong bayi kecil itu, lihat wajahnya yang mungil, dan dunia terasa ringan. Aku tersenyum lebar, hampir tertawa, rasanya seperti hadiah setelah bulan-bulan penuh ketidakpastian. “Ini anakku, darahku, harapanku,” kataku dalam hati, gembira. Tiba-tiba cahaya ilahi menyambar ruangan, gemuruh mengguncang udara. Supreme Authority berfirman, “Namakan ia Yizreel. Ini tanda bahwa penghakiman akan datang. Darah keluarga Yehu akan ditebus, dosa mereka atas pembunuhan di Lembah Yizreel akan dibalas dengan kehancuran.” Ini mengingatkanku akan arsip yang kubaca tentang misi Elisa lebih dari 50 tahun yang lalu.
Aku gendong Yizreel lebih erat, lihat matanya yang polos, dan bisik, “Kau tanggung jawabku. Aku akan jaga kau apa pun yang terjadi.” Namun saat menoleh ke Gomer, kegembiraanku memudar. Matanya tak lagi tertuju padaku atau anak kami. Dia menatap ke luar jendela, jauh, seperti ada dunia lain yang memanggilnya. Jantungku bergetar. Aku tahu, di balik kebahagiaan ini, sesuatu mulai retak.
Operation 2: Betrayal Protocol
Year 3 of Mission: Tanda Bahaya
Anak kedua lahir, tapi suasana rumah tak lagi sama. Aku berdiri di samping tempat tidur, lihat Gomer memegang bayi itu dengan tangan dingin, matanya kosong seolah pikirannya entah di mana. Aku coba pegang tangannya, tapi dia menarik diri, halus namun tegas. Hari itu kilatan cahaya ilahi menerangi ruangan, suara Supreme Authority bergema berat seperti batu jatuh. “Namakan ia Lo-Ruhama, yang berarti ‘tak dicintai’. Kasih-Ku kepada Israel akan Aku tarik karena dosa mereka yang menumpuk. Mereka telah meninggalkan Aku untuk berhala dan kebohongan.”
Aku pegang Lo-Ruhama, rasakan tubuh kecilnya di pelukanku, tapi dadaku sesak. Nama ini seperti pisau. Setiap kali kupanggil dia, aku dengar gema penolakan, tanda bahwa cinta yang kuberikan pada Gomer mulai memudar di matanya. Aku lihat dia lagi, berdiri di sudut, tatapannya jauh. Retakan yang kumelihat dua tahun lalu kini jadi jurang. Hati ini bertanya, “Apa yang salah? Apa yang hilang dariku?” Jawaban tak datang, hanya angin malam yang dingin membawa bisik tentang akhir yang dekat.
Year 5 of Mission: Pukulan Terakhir
Dua tahun berlalu, dan anak ketiga lahir di tengah keheningan mencekam. Rumahku kini seperti kuburan. Tak ada tawa, tak ada kehangatan, hanya bayang-bayang bergerak di dinding. Gomer duduk di sana, memandang bayi itu dengan mata yang tak lagi punya cahaya. Aku merasa seperti orang asing di hidupku sendiri. Cahaya ilahi menyambar dari langit hitam, suara Supreme Authority menggelegar bagai petir. “Namakan ia Lo-Ami, ‘bukan umat-Ku’. Engkau bukan umat-Ku, dan Aku bukan Allahmu. Israel telah memutus ikatan dengan-Ku, hukuman akan segera tiba.”
Aku angkat Lo-Ami ke dadaku, tapi tanganku gemetar. Nama ini lebih dari kata, melainkan tamparan, pengusiran, akhir dari segala harapan. Aku lihat wajahnya yang tak berdosa, air mata hampir jatuh, bukan untukku, tapi untuk anak-anakku yang lahir di tengah kutukan ini. Lalu aku pandang Gomer. Dia tak mau menatapku, berdiri di ambang pintu, tubuhnya condong ke luar. Aku tahu dia bukan milikku lagi. Hati ini hancur, tapi tugas ini belum selesai. Aku bisik pada diriku sendiri, “Aku harus bertahan,” meski rasanya seperti memegang bara.
Year 6 of Mission: Titik Kehancuran
Malam itu badai datang. Angin menderu, pintu rumah berderit keras, tapi keheningan di dalam lebih memekakkan. Aku pulang dari mencari roti untuk makan malam, langkahku terhenti di ambang pintu. Ranjang kami kosong! Jubah Gomer tak ada di dinding, bau tubuhnya yang dulu hangat lenyap, diganti udara dingin yang menusuk. Aku berdiri di tengah ruangan, tangan mengepal, napasku tersengal. Dia pergi. Orang-orang sekitar segera buka suara, pelan namun menusuk. “Dia pergi sama orang lain, Hosea. Dia bilang dia mau hidup lebih layak, tanpamu.”
Aku jatuh ke lutut, pegang meja kayu sampai jemariku memutih. Dunia runtuh di atas kepalaku. Anak-anakku, Yizreel, Lo-Ruhama, Lo-Ami, tertidur di sudut, tak tahu ibunya telah membuang mereka, membuangku. Aku ingin teriak, ingin kejar dia, tarik dia kembali, tapi kakiku lumpuh. Hati ini berdarah. Cinta yang kuberi, janji yang kupahat, semua hancur jadi debu. Bayangan kami dulu di dinding memudar, dan aku rasa ini akhir dari segalanya.
Dengan sisa tenaga, aku lapor ke atas, suaraku pecah. “Ya Tuhan, dia pergi. Dia pilih orang lain, tinggalkan aku dan anak-anakku. Rencana ini hancur. Bolehkah hamba menyerah?” Cahaya ilahi menyelinap lembut di kegelapan, suara Supreme Authority menjawab, tenang namun menusuk jiwa. “Hosea, engkau merasakan apa yang Aku alami dengan Israel. Mereka meninggalkan Aku, namun Aku tetap mengejar mereka.” Aku terdiam, air mata jatuh ke lantai. Segala yang kubangun hancur karena pengkhianatan ini, tapi perintah dari Atasan itu tetap tak tergoyahkan. Aku, meski remuk, tak bisa berhenti.
Operation 3: Redemption Directive
Year 8 of Mission: Intel Drop (Kabar Baru)
Gomer jatuh. Kejatuhannya seperti cerita yang orang bisikkan padaku dengan takut. Setelah meninggalkanku, dia mengejar bayangan kebesaran, pria-pria yang janjikan emas, pesta, hidup mewah. Tapi satu per satu, mereka buang dia seperti kain usang. Dia jatuh ke lumpur, dari wanita yang dulu dipuja jadi barang yang tak lagi punya harga. Orang bilang dia terlihat di pasar budak, dijual murah, tubuhnya rusak oleh waktu dan dosa yang dia pilih. Aku dengar kabar itu dari para kolega, suara mereka penuh cemooh. “Itu Gomer, Hosea. Dia habis sekarang, tak ada yang mau dia lagi.”
Aku berdiri di pintu rumah, tangan gemetar memegang tiang teras, hati bergolak antara amarah, iba, dan tugas yang tak pernah usai. Aku membulatkan tekad pergi ke pasar itu, langkahku berat seperti menyeret batu. Di pasar, udara penuh bau keringat dan teriakan orang-orang yang tawar-menawar. Saat aku mendorong kerumunan, aku sontak tertegun. Di tengah jalan becek dan pengap, aku lihat dia. Gomer.
Wajahnya penuh noda hitam, rambut yang dulu indah kini kusut dan kotor, menempel di kulit pucat seperti mayat hidup. Tulang pipinya mencuat tajam, tubuhnya kurus bagai ranting kering yang siap patah. Matanya, yang dulu membakar jiwaku, kini cuma rongga kosong, redup seperti lilin yang habis terbakar. Baju compang-campingnya berkibar tertiup angin, kain lusuh yang tak lagi mampu menyembunyikan luka dan memar di tubuhnya. Dia berdiri di blok lelang, tangan terikat, kepala tertunduk. Gambaran ratu yang kucintai kini hancur dalam kenyataan di hadapanku, dipermalukan di depan semua orang.
Aku berdiri di sana, napasku tersendat, tangan mengepal sampai berdarah. Ini dia, wanita yang kepadanya kuberikan segalanya, yang kubawa ke hidupku, yang menghianatiku sampai aku tak punya apa-apa lagi. Tapi di hatiku, di balik amarah membara, ada getar kecil, sisa cinta yang tak pernah mati dan tugas yang masih memanggil.
Year 8, Day 7 of Mission: Penjemputan
Aku berdiri di tengah pasar, angin penuh debu menerpaku, hati berguncang hebat. Cahaya ilahi menyambar dari langit, mengguncang udara bagai guntur. Supreme Authority berfirman, “Hosea, pergilah sekarang! Tebus dia dari lumpur kehinaan itu. Kasihilah ia dengan segala yang ada padamu, seperti Aku mengasihi Israel walau mereka menusuk hati-Ku.”
Aku menatap Gomer di blok lelang, napasku tercekat, dan teriak dalam hati, “Ya Tuhan, dia hancurkan aku. Kenapa lagi?” Cahaya itu menyelinap lagi, suara-Nya tenang namun tak tergoyahkan. “Hosea, ini jalanKu. CintaKu tak pernah berhenti, bahkan untuk yang tersesat.” Aku menunduk, air mata bercampur debu di wajahku, lalu mengangguk. Aku tak bisa lari dari ini.
Aku maju, dorong kerumunan, ikut lelang. Orang-orang menawar dengan tawa sinis, tapi aku berdiri tegak, suaraku memotong udara. “Lima belas syikal perak, satu setengah homer jelai!” Lelang pun berhenti. Aku bayar dengan tangan gemetar, lalu segera berlari ke arah dia. Gomer mengangkat wajahnya perlahan, matanya bertemu mataku. Di tengah kehancuran, aku lihat kilatan rasa takut dan malu.
Dia berbisik, suaranya serak. “Hosea, kenapa lo di sini setelah semua yang aku lakuin?” Aku pegang lengannya, rasakan tulangnya di bawah kulit tipis, dan jawab dengan suara bergetar. “Aku nggak bisa ninggalin kamu di sini, Gomer. Tuhan bilang kamu milikku. Pulang sama aku sekarang.” Dia menatapku, air mata membanjiri wajah kotornya, lalu menjerit pelan. “Aku nggak pantas, Hosea!”
Aku tarik dia keluar dari blok itu. “Mungkin,” kataku, suaraku hampir hilang, “tapi aku harus lakuin ini.” Dia tersedu, ikut aku dengan langkah terseret. Tak ada kata maaf, hanya keheningan penuh luka membawa kami pulang.
Debriefing: Jalan yang Tak Berujung
Year 9 of Mission: Unresolved Legacy
Malam itu angin dingin bertiup pelan. Mataku terpaku pada Gomer yang duduk diam di sudut ruang tamu, tangannya memegang cangkir kosong. Cahaya bulan jatuh di wajahnya, menyorot bekas luka yang tak terucap. Keheningan ini seperti lautan menenggelamkan kami berdua. Aku pegang pagar kayu, jari-jari gemetar. Tawa di dapur, malam penuh janji, badai yang merobek kami, pasar penuh debu, semua terlintas di benakku.
Aku memandangnya lagi dari jendela yang terbuka, sosok rapuh dalam ruang kosong, dan hatiku bertanya dalam bisik penuh beban. “Apakah dia akan kembali, atau aku cuma memeluk bayangan?” Aku angkat wajah ke langit gelap, bintang-bintang redup seolah menahan jawaban, dan suaraku pecah ke atas. “Bos, apakah ini sepadan? Engkau lempar aku ke api, beri aku wanita yang sulit kugenggam. Apa yang tersisa dariku?”
Tak ada suara, hanya angin dingin menusuk tulang. Tapi di dalam dada, aku rasakan tugas ini seperti tali mengikatku erat, energi cinta yang tak menyerah meski hatiku remuk. Aku Hosea, pembawa pesan yang dipilih, nabi yang berjalan di bara, suami dari wanita yang berkhianat. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, pintu berderit di belakangku, dan bisik pelan pada diriku sendiri. “Aku akan terus karena Dia tak lepaskan aku.” Tugas ini berjalan, seperti sungai tak bisa dibendung, dan statusnya tetap BELUM SELESAI.